Wednesday, October 19, 2016

Boss Anda Seorang Entrepreneur atau Businessman? Ini Akan Menentukan Nasib dan Masa Depan Anda di Perusahaan


Kembali teringat pada peristiwa-peristiwa di perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Banyak cerita dan pengalaman, mulai dari yang paling menyenangkan hingga yang paling menyedihkan, dari yang paling membahagiakan sampai yang paling membuat saya miris jika mengingatnya. Saya pernah bekerja di beberapa perusahaan dengan berbagai bidang usaha, mulai dari perusahaan kecil sampai perusahaan besar level multinasional. 

Awal pengalaman saya bekerja di sebuah wedding organizer di Bandung, dengan gaji hanya beberapa ratus ribu saja perbulan. Owner perusahaan bukannya tidak ingin memberikan saya gaji yang lebih besar, tapi karena dia baru merintis dan bidang usahanya yang tidak menghasilkan profit yang terlalu besar saat itu, sehingga gaji bulanan saya waktu itu terhitung kecil, tapi cukup untuk menutup kebutuhan saya sendiri. Lagi pula saat itu pekerjaan saya adalah pekerjaan sambilan untuk menutupi biaya kuliah. Meskipun demikian saya sangat menikmati pekerjaan dan suasana tempat saya bekerja. Hubungan saya dengan owner perusahaan sangat baik. Tidak seperti bawahan dan atasan, melainkan layaknya teman sepermainan. Saya merasa sangat nyaman jika berada di tempat kerja. Bagi owner, “yang penting kerjaan selesai, sisanya terserah kalian”. Owner sangat mempercayakan kepada kami untuk menangani pekerjaan-pekerjaan di lapangan, tanpa harus banyak mendikte dengan aturan-aturan yang kaku.

Waktu berlalu, akhirnya saya lulus kuliah. Saya diterima bekerja di salah satu perusahaan retail pakaian di Bandung. Perusahaan ini tidak memproduksi sendiri produk, melainkan mengambil dari vendor untuk kemudian diberi label dan merk lalu dijual ke pasar. Gaji yang ditawarkan jauh lebih besar dari perusahaan sebelumnya.  Tapi saya tidak pernah menikmati setiap detik pekerjaan saya di tempat baru itu. Suasana kerjanya sangat berbeda. Hubungan saya selaku bawahan dan atasan sangat kaku. Dan saya pikir ini juga yang menyebabkan hubungan antar teman satu kantor juga jadi terkesan kaku. Di tempat kerja yang baru ini pekerjaan seolah-olah tidak pernah ada habisnya. Tidak peduli jika harus lembur sampai pagi, waktunya masuk kerja ya harus kerja. Pernah saya lembur sampai jam 3 pagi, kemudian jam 9 pagi masih harus masuk juga. Padahal itu di Hari Sabtu. Hari dimana seharusnya saya off. Saya dituntut untuk melakukan berbagai pekerjaan. Jika perlu di hari sabtu dan minggu pun masuk kerja. Saya hampir tidak punya waktu untuk diri saya sendiri dan keluarga. Hanya kerja, kerja dan kerja.  Owner perusahaan sepertinya tidak tahu atau tidak mau tahu atau bahkan tidak peduli dengan kondisi pegawainya yang demikian.

Saya pikir kondisi kesehatan fisik dan kejiwaan saya jauh lebih penting dari pada saya memaksakan diri bertahan bekerja di tempat seperti itu. Gaji yang saya terima tidak akan ada apa-apanya jika kondisi fisik dan kejiwaan saya pada akhirnya menjadi terganggu.
Waktu berlalu, 4 tahun sudah saya meninggalkan perusahaan retail pakaian itu. Sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional ternama di Karawang. Tapi, saya masih menyimpan trauma atas perlakuan owner perusahaan retail pakaian itu. Trauma ini membuat saya terus berfikir, mengapa ada orang yang seperti itu. Saya yakin orang seperti itu tidak hanya satu, melainkan ada banyak di dunia owner-owner perusahaan yang berwatak seperti itu, bahkan mungkin lebih buruk lagi. Sebaliknya ada juga owner-owner perusahaan yang memiliki watak kebalikannya dari mereka.

Apa sebenarnya penyebab yang membedakan keduanya. Pernah saya menyimpulkan dengan membawa-bawa sifat kedaerahan sebagai penyebabnya. Namun kemudian saya sadari bahwa itu adalah salah besar. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah artikel yang menurut saya ini adalah jawaban dari pertanyaan saya.

Dalam authoritywebsiteincome.com, Jon Haver memaparkan 10 perbedaan antara businessman dan entrepreneur sebagai berikut :

1. Pada keaslian ide
Seorang businessman dapat membuat bisnis dari suatu bisnis atau produk yang tidak orisinil/baru. Dia masuk ke dalam bisnis yang ada, seperti waralaba dan ritel. Dia memilih ide bisnis yang sedang hangat dan menguntungkan terlepas dari apakah itu adalah ide asli atau meminjam dari orang lain. Seorang entrepreneur adalah seorang penemu dan pencipta pertama dari sebuah produk.  Dia menginvestasikan waktu, tenaga dan uang pada idenya sendiri. Dia tidak memulai bisnis dari ide yang tidak orisinil/baru . Itulah sebabnya ketika seorang entrepreneur baru startup sementara businessman telah memulai bisnis.

2. Pada tujuan
Kebanyakan Businessman melakukan bisnis untuk keuntungan, sebagai mata pencaharian, untuk mencapai tujuan keuangan mereka, dan untuk menjadi bos mereka sendiri. Meskipun, ada beberapa orang businessman yang tidak berorientasi profit, melainkan berorientasi kepada orang, yaitu mereka lebih peduli pada kesejahteraan pekerja dan kepuasan pelanggan mereka. Entrepreneur lebih peduli pada perubahan dunia. Mereka ingin mengejar gairah mereka dan mencapai tujuan akhir. Mereka tidak tertarik pada keuntungan finansial, mereka berfokus pada apa yang bisa mereka tawarkan kepada dunia. Tujuan mereka untuk berwirausaha hanya untuk membuat perbedaan di dunia ini.

3. Pada tingkat pengambilan resiko
Businessman menghitung-hitung dan mengelola resiko yang kemungkinan akan muncul. Mereka tidak sanggup untuk kehilangan uang dan mengalami kebangkrutan. Itulah sebabnya mereka selalu itung-itungan dalam urusan bisnis. Entrepreneur seperti seorang penerjun payung. Mereka mengambil risiko gila. Mereka bahkan tidak peduli jika harus kehilangan waktu dan uang hanya untuk mengejar gairah mereka. Tapi karena mereka melakukannya dengan kasih, sukacita dan semangat, mereka sering mendapatkan timbal balik yang luar biasa. karena mereka melakukan hal-hal yang paling mereka sukai, maka mereka lakukan yang terbaik dari diri mereka sendiri, untuk sukses yang lebih besar.

4. Perlakuan pada  karyawan
Seorang businessman adalah majikan dan manajer. Dia mempekerjakan karyawan dan pekerja untuk membantu membesarkan usahanya. Seorang entrepreneur adalah teman dan seorang pemimpin. Dia mencari rekan dan orang, untuk tidak diperlakukan sebagai mesin dan mengajak mereka untuk tumbuh mersama-sama.

5. Pada bagaimana ia memperlakukan pelanggan
Seorang businessman biasanya melihat pelanggan sebagai sumber dari penjualan dan pendapatan. Baginya, pelanggan adalah darah kehidupan bisnisnya. Seorang entrepreneur melihat pelanggan sebagai sumber tugas dan pemenuhan. Baginya, pelanggan adalah darah dari kehidupan sendiri.

6. Pada bagaimana ia melihat kompetisi
Seorang businessman berusaha keras untuk mengalahkan pesaing dan memenangkan persaingan. Seorang entrepreneur berusaha keras untuk mengalahkan pesaing terburuknya yaitu dirinya sendiri.

7. Pada apa yang dia pikir tentang uang
Kehilangan uang adalah salah satu kekhawatiran terbesar dari seorang businessman. Kebanyakan businessman bergantung pada kondisi ekonomi yang baik untuk memulai, mengoperasikan dan mencapai sukses dalam bisnis, terutama di industri ritel, waralaba dan pembiayaan. Pengusaha tidak terlalu khawatir tentang uang karena mereka selalu dapat memulai dari awal. Bahkan beberapa pengusaha benar-benar tidak peduli tentang uang sama sekali.

8. Pada bagaimana mengelola waktu
Seorang businessman tidak membuang-buang waktu. Dia selalu memeriksa jam dan tidak ingin pekerjaan atau output tertunda dari jadwal. Dia cepat dan selalu sigap. Seorang entrepreneur bekerja seperti seorang seniman atau ilmuwan di laboratorium. produknya adalah hasil karyanya. Itulah sebabnya dia terkesan lambat dan bisa menghabiskan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan dan menyempurnakan produknya.

9. Bagaimana dia melihat dunia
Seorang businessman melihat dunia sebagai sebuah kesempatan untuk mencari nafkah.Business man juga melihat umat manusia yang tinggal di dunia sebagai sebuah peluang untuk meraih kesempatan. Seorang entrepreneur melihat dunia sebagai tanggung jawab daripada kesempatan.

10. Bagaimana mendefinisikan sukses
Seorang Businessman mendefinisikan sukses sebagai keberhasilan bisnis dan pemangku kepentingan. pemangku kepentingan disini termasuk dirinya sendiri, pemegang saham, karyawan, pelanggan, investor dan bahkan komunitasnya. Seorang entrepreneur tidak mendefinisikan kesuksesan. Dia hanya melakukan pekerjaannya dan membiarkan sejarah mencatat kesuksesan yang dia capai.

Jelas kan maksud saya!!!!

Owner perusahaan tempat saya bekerja pertama kali adalah seorang entrepreneur. Sedangkan owner perusahaan tempat saya bekerja berikutnya adalah seorang businessman. Itulah sebabnya perlakuan terhadap pegawainya akan sangat berbeda sekali.
Orientasi seorang businessman adalah keuntungan. Dia tidak berorientasi kepada orang (pegawai). Baginya keuntungan jauh lebih penting dari pegawai-pegawainya. Itulah sebabnya umumnya seorang businessman dalam memperlakukan pegawainya terkesan acuh dan tidak peduli terhadap kondisi pegawai-pegawainya. Yang penting kerja, kerja dan kerja. Baginya pekerja hanyalah alat untuk menghasilkan profit. Dia lupa bahwa pegawai-pegawainya adalah manusia, bukan mesin. Berbeda dengan seorang entrepreneur, baginya pegawai adalah partner kerja. Dia akan memperlakukan pegawai-pegawainya sebagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri.

Karena orientasinya adalah keuntungan, hal tidak terduga yang mungkin dilakukan oleh seorang businessman yang akan sangat berpengaruh terhadap nasib dan masa depan pegawai-pegawainya adalah dia akan menjual usahanya kepada pihak lain selama itu memberinya keuntungan. Baginya yang penting bukanlah usaha bisnsisnya, tetapi keuntungannya. Jika perusahaan pindah kepemilikan, tentu saja nasib anda akan berubah. Mungkin bisa saja menjadi lebih baik. Atau sebaliknya. Dan tidak menutup kemungkinan anda akan mengalami hal yang lebih buruk dalam dunia kerja, yaitu PHK.  
Itu sebabnya mulailah untuk mengenali kepada siapa dan untuk orang seperti apa anda bekerja. Nasib anda saat ini ditempat kerja dan dimasa yang akan datang, akan sangat ditentukan oleh orang seperti apa owner perusahaan anda. Seorang businessman atau seorang entrepreneur?  

No comments:

Post a Comment