Kembali teringat pada
peristiwa-peristiwa di perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya.
Banyak cerita dan pengalaman, mulai dari yang paling menyenangkan hingga yang
paling menyedihkan, dari yang paling membahagiakan sampai yang paling membuat
saya miris jika mengingatnya. Saya pernah bekerja di beberapa perusahaan dengan
berbagai bidang usaha, mulai dari perusahaan kecil sampai perusahaan besar level
multinasional.
Awal pengalaman saya bekerja di sebuah wedding
organizer di Bandung, dengan gaji hanya beberapa ratus ribu saja perbulan. Owner
perusahaan bukannya tidak ingin memberikan saya gaji yang lebih besar, tapi
karena dia baru merintis dan bidang usahanya yang tidak menghasilkan profit yang
terlalu besar saat itu, sehingga gaji bulanan saya waktu itu terhitung kecil,
tapi cukup untuk menutup kebutuhan saya sendiri. Lagi pula saat itu pekerjaan
saya adalah pekerjaan sambilan untuk menutupi biaya kuliah. Meskipun demikian
saya sangat menikmati pekerjaan dan suasana tempat saya bekerja. Hubungan saya
dengan owner perusahaan sangat baik. Tidak seperti bawahan dan atasan, melainkan
layaknya teman sepermainan. Saya merasa sangat nyaman jika berada di tempat
kerja. Bagi owner, “yang penting kerjaan selesai, sisanya terserah kalian”.
Owner sangat mempercayakan kepada kami untuk menangani pekerjaan-pekerjaan di
lapangan, tanpa harus banyak mendikte dengan aturan-aturan yang kaku.
Waktu berlalu, akhirnya saya lulus kuliah. Saya
diterima bekerja di salah satu perusahaan retail pakaian di Bandung. Perusahaan
ini tidak memproduksi sendiri produk, melainkan mengambil dari vendor untuk kemudian
diberi label dan merk lalu dijual ke pasar. Gaji yang ditawarkan jauh lebih
besar dari perusahaan sebelumnya. Tapi
saya tidak pernah menikmati setiap detik pekerjaan saya di tempat baru itu.
Suasana kerjanya sangat berbeda. Hubungan saya selaku bawahan dan atasan sangat
kaku. Dan saya pikir ini juga yang menyebabkan hubungan antar teman satu kantor
juga jadi terkesan kaku. Di tempat kerja yang baru ini pekerjaan seolah-olah
tidak pernah ada habisnya. Tidak peduli jika harus lembur sampai pagi, waktunya
masuk kerja ya harus kerja. Pernah saya lembur sampai jam 3 pagi, kemudian jam
9 pagi masih harus masuk juga. Padahal itu di Hari Sabtu. Hari dimana seharusnya
saya off. Saya dituntut untuk melakukan berbagai pekerjaan. Jika perlu di hari
sabtu dan minggu pun masuk kerja. Saya hampir tidak punya waktu untuk diri saya
sendiri dan keluarga. Hanya kerja, kerja dan kerja. Owner perusahaan sepertinya tidak tahu atau
tidak mau tahu atau bahkan tidak peduli dengan kondisi pegawainya yang
demikian.
Saya pikir kondisi kesehatan fisik dan kejiwaan saya
jauh lebih penting dari pada saya memaksakan diri bertahan bekerja di tempat
seperti itu. Gaji yang saya terima tidak akan ada apa-apanya jika kondisi fisik
dan kejiwaan saya pada akhirnya menjadi terganggu.
Waktu berlalu, 4 tahun sudah saya meninggalkan
perusahaan retail pakaian itu. Sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan
multinasional ternama di Karawang. Tapi, saya masih menyimpan trauma atas
perlakuan owner perusahaan retail pakaian itu. Trauma ini membuat saya terus berfikir,
mengapa ada orang yang seperti itu. Saya yakin orang seperti itu tidak hanya
satu, melainkan ada banyak di dunia owner-owner perusahaan yang berwatak
seperti itu, bahkan mungkin lebih buruk lagi. Sebaliknya ada juga owner-owner
perusahaan yang memiliki watak kebalikannya dari mereka.
Apa sebenarnya penyebab yang membedakan keduanya. Pernah saya
menyimpulkan dengan membawa-bawa sifat kedaerahan sebagai penyebabnya. Namun kemudian
saya sadari bahwa itu adalah salah besar. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah
artikel yang menurut saya ini adalah jawaban dari pertanyaan saya.
Dalam authoritywebsiteincome.com, Jon Haver memaparkan
10 perbedaan antara businessman dan entrepreneur sebagai berikut :
1.
Pada keaslian ide
Seorang
businessman dapat membuat bisnis dari
suatu bisnis atau produk yang tidak orisinil/baru.
Dia masuk ke dalam bisnis yang ada, seperti waralaba dan ritel. Dia memilih ide
bisnis yang sedang hangat dan
menguntungkan terlepas dari apakah itu adalah ide asli atau meminjam dari orang lain. Seorang entrepreneur adalah seorang
penemu dan pencipta pertama dari sebuah produk.
Dia
menginvestasikan waktu, tenaga dan uang pada idenya sendiri. Dia tidak memulai
bisnis dari ide yang tidak orisinil/baru
.
Itulah sebabnya ketika seorang entrepreneur
baru startup sementara
businessman telah memulai bisnis.
2.
Pada tujuan
Kebanyakan
Businessman melakukan bisnis untuk
keuntungan, sebagai mata
pencaharian, untuk mencapai tujuan keuangan mereka, dan untuk menjadi bos
mereka sendiri. Meskipun, ada beberapa orang businessman yang tidak berorientasi profit, melainkan
berorientasi kepada orang, yaitu mereka lebih peduli pada kesejahteraan pekerja
dan kepuasan pelanggan mereka. Entrepreneur
lebih peduli pada perubahan dunia. Mereka ingin mengejar gairah mereka dan
mencapai tujuan akhir. Mereka tidak tertarik pada keuntungan finansial, mereka
berfokus pada apa yang bisa mereka tawarkan kepada dunia. Tujuan mereka untuk
berwirausaha hanya untuk membuat perbedaan di dunia ini.
3.
Pada tingkat pengambilan resiko
Businessman menghitung-hitung dan mengelola resiko
yang kemungkinan akan muncul. Mereka tidak sanggup untuk kehilangan uang dan mengalami kebangkrutan. Itulah
sebabnya mereka selalu itung-itungan dalam urusan bisnis. Entrepreneur seperti seorang penerjun payung.
Mereka mengambil risiko gila. Mereka
bahkan tidak peduli jika
harus kehilangan waktu dan uang hanya untuk mengejar gairah
mereka. Tapi
karena mereka melakukannya dengan kasih, sukacita dan semangat, mereka sering
mendapatkan timbal balik
yang luar biasa. karena mereka melakukan hal-hal yang paling mereka sukai, maka mereka lakukan yang terbaik dari diri
mereka sendiri, untuk sukses yang lebih besar.
4.
Perlakuan pada karyawan
Seorang
businessman adalah majikan dan manajer. Dia
mempekerjakan karyawan dan pekerja untuk membantu membesarkan usahanya.
Seorang entrepreneur adalah teman dan
seorang pemimpin. Dia mencari
rekan dan orang, untuk tidak
diperlakukan sebagai mesin dan mengajak mereka untuk tumbuh mersama-sama.
5.
Pada bagaimana ia memperlakukan pelanggan
Seorang
businessman biasanya melihat pelanggan
sebagai sumber dari penjualan dan pendapatan. Baginya, pelanggan adalah darah
kehidupan bisnisnya. Seorang entrepreneur
melihat pelanggan sebagai sumber tugas dan pemenuhan. Baginya, pelanggan adalah
darah dari kehidupan sendiri.
6.
Pada bagaimana ia melihat kompetisi
Seorang
businessman berusaha keras untuk
mengalahkan pesaing dan memenangkan persaingan. Seorang entrepreneur berusaha keras untuk
mengalahkan pesaing terburuknya yaitu
dirinya sendiri.
7.
Pada apa yang dia pikir tentang
uang
Kehilangan
uang adalah salah satu kekhawatiran terbesar dari seorang businessman.
Kebanyakan businessman
bergantung pada kondisi ekonomi
yang baik untuk memulai, mengoperasikan dan mencapai sukses dalam bisnis,
terutama di industri ritel, waralaba dan pembiayaan. Pengusaha tidak terlalu khawatir tentang
uang karena mereka selalu dapat memulai dari awal. Bahkan beberapa pengusaha
benar-benar tidak
peduli tentang uang sama sekali.
8.
Pada bagaimana mengelola waktu
Seorang
businessman tidak membuang-buang waktu.
Dia selalu memeriksa jam dan tidak ingin pekerjaan atau output tertunda dari
jadwal. Dia cepat dan selalu sigap.
Seorang entrepreneur bekerja seperti
seorang seniman atau ilmuwan di laboratorium. produknya adalah hasil karyanya. Itulah sebabnya dia terkesan lambat dan bisa
menghabiskan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan dan menyempurnakan
produknya.
9.
Bagaimana dia melihat dunia
Seorang
businessman melihat dunia sebagai sebuah
kesempatan untuk mencari
nafkah.Business man juga melihat umat manusia yang tinggal di
dunia sebagai sebuah peluang untuk meraih kesempatan.
Seorang entrepreneur melihat dunia
sebagai tanggung jawab daripada kesempatan.
10.
Bagaimana mendefinisikan
sukses
Seorang
Businessman mendefinisikan sukses
sebagai keberhasilan bisnis dan pemangku kepentingan. pemangku kepentingan disini termasuk dirinya sendiri, pemegang saham, karyawan,
pelanggan, investor dan
bahkan komunitasnya. Seorang entrepreneur
tidak mendefinisikan kesuksesan. Dia hanya melakukan pekerjaannya dan membiarkan
sejarah mencatat
kesuksesan yang dia capai.
Jelas kan maksud saya!!!!
Owner perusahaan tempat saya bekerja pertama kali
adalah seorang entrepreneur. Sedangkan owner perusahaan tempat saya bekerja
berikutnya adalah seorang businessman. Itulah sebabnya perlakuan terhadap
pegawainya akan sangat berbeda sekali.
Orientasi seorang businessman adalah keuntungan. Dia tidak
berorientasi kepada orang (pegawai). Baginya keuntungan jauh lebih penting dari
pegawai-pegawainya. Itulah sebabnya umumnya seorang businessman dalam
memperlakukan pegawainya terkesan acuh dan tidak peduli terhadap kondisi
pegawai-pegawainya. Yang penting kerja, kerja dan kerja. Baginya pekerja
hanyalah alat untuk menghasilkan profit. Dia lupa bahwa pegawai-pegawainya
adalah manusia, bukan mesin. Berbeda dengan seorang entrepreneur, baginya
pegawai adalah partner kerja. Dia akan memperlakukan pegawai-pegawainya
sebagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri.
Karena orientasinya adalah keuntungan, hal tidak
terduga yang mungkin dilakukan oleh seorang businessman yang akan sangat
berpengaruh terhadap nasib dan masa depan pegawai-pegawainya adalah dia akan
menjual usahanya kepada pihak lain selama itu memberinya keuntungan. Baginya yang
penting bukanlah usaha bisnsisnya, tetapi keuntungannya. Jika perusahaan pindah
kepemilikan, tentu saja nasib anda akan berubah. Mungkin bisa saja menjadi
lebih baik. Atau sebaliknya. Dan tidak menutup kemungkinan anda akan mengalami hal
yang lebih buruk dalam dunia kerja, yaitu PHK.
Itu sebabnya mulailah untuk mengenali kepada siapa dan
untuk orang seperti apa anda bekerja. Nasib anda saat ini ditempat kerja dan
dimasa yang akan datang, akan sangat ditentukan oleh orang seperti apa owner
perusahaan anda. Seorang businessman atau seorang entrepreneur?

No comments:
Post a Comment